1. Kejuaraan Senam Ritmik Dunia 2025 diwarnai Insiden Teknologi
Dalam ajang Kejuaraan Senam Ritmik Dunia 2025 di Rio de Janeiro, Darja Varfolomeev dari Jerman berhasil mempertahankan gelar all-around individu. Sayangnya, momen gemilang ini juga diwarnai gangguan teknis—sebuah kesalahan komputer pada babak kualifikasi grup menyebabkan penundaan hingga hampir 50 menit. Federasi Senam Internasional (FIG) pun menayangkan permintaan maaf resmi atas insiden tersebut dan mengakui kekeliruan dalam sistem penilaian. Di podium, Sofia Raffaeli dan Stiliana Nikolova menempati posisi kedua dan ketiga.
2. Era Baru Senam Artistik Dunia Dimulai di Jakarta
Indonesia tengah bersiap menyelenggarakan Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 yang akan digelar di Jakarta, 19–25 Oktober mendatang—sebuah pencapaian bersejarah karena ini merupakan pertama kalinya ajang ini diadakan di Asia Tenggara. Lebih dari 500 atlet dari 82 negara dipastikan tampil, dan venue Indonesia Arena telah siap secara teknis, termasuk sinar lampu dan rigging. Acara ini juga berperan sebagai kualifikasi resmi menuju Olimpiade Los Angeles 2028.
3. Talenta Baru di U.S. Gymnastics Mulai Menunjukkan Taring
Ketiadaan megabintang seperti Simone Biles membuka peluang bagi talenta baru di Amerika. Hezly Rivera, usia 17 tahun, memenangkan gelar all-around nasional di AS dan kini menjadi kandidat utama kejuaraan dunia mendatang, meski masih harus membuktikan diri di panggung global. Selain itu, atlet lain seperti Leanne Wong dan Joscelyn Roberson juga tampil solid dengan berbagai elemen teknis impresif, seperti Cheng vault dan eksekusi di lantai.
4. Keberanian Mengubah Tradisi dalam Seragam Senam
Dalam ajang Kejuaraan Senam AS 2025, Frederick Richard, atlet peraih perunggu Olimpiade, mengejutkan publik dengan mengenakan celana pendek penuh warna dengan legging kompresi—keluar dari gaya seragam tradisional stirrup pants—meski dikenakan penalti 0,3 poin per nomor. Tujuan Richard adalah memperbarui citra senam agar lebih relatable bagi kaum muda. Meskipun FIG belum menyetujui perubahan ini, Richard bertekad melanjutkan gerakan modernisasi visual dalam senam.
Semangat senam dunia saat ini diwarnai oleh teknis, acara global, regenerasi atlet, dan ide segar yang berani merombak norma—menjadikannya olahraga yang tak hanya cantik secara visual, tapi juga dinamis dan visioner.